![]() |
Maret di kampusku, Model Farm Hokudai |
Hari ini aku sedikit lesu, melangkah lunglai di atas jalan yang sama. Pagi terlihat indah, namun aku tidak cukup bahagia untuk tertawa. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini, aku hanya menyimpannya sebagai kata dalam kepala. Mulai dari paper-ku yang berubah cerita, semua berantakan tanpa bisa dikendalikan. Aku bersalah pada beberapa teman, meninggalkan sebelum mulai perjalanan bukan hal yang benar. Tidak punya cukup kata-kata baik untuk menjelaskan, membuatku pamit dan menjauh tanpa meninggalkan alasan. Ini bukan sikap yang baik, tapi tidak ada opsi lain yang lebih baik.
Pertengahan Maret, juga pertengahan Ramadhan, tapi aku merasa semakin Jauh dari Tuhan. Selain salju yang masih turun, hatiku yang gelisah membuat jalan ini kehilangan arah. Aku bertanya, "Setarakah semua ini dengan apa yang dikorbankan?" Diriku yang lain hanya diam, diam merenungi jengkal demi jengkal yang kutinggalkan di belakang.
Setelah tiga tahun tinggal ribuan kilometer dari kampung halaman, aku mulai terbiasa menerima kabar duka. Berita kehilangan silih berganti datang dalam kesendirian. Aku mencoba mereka wajah-wajah mereka yang ditinggalkan dalam ingatan. Sungguh, aku tidak pernah benar-benar siap dengan perpisahan. Jika berita duka datang bertepatan dengan urusan kerja yang harus diselesaikan, aku harus buru-buru menyeka air mata dan kembali tegak dengan sikap profesional. Kadang aku bertanya, "Adakah ruang untukku agar bisa berduka lebih lama?"
Perjalanan S3-ku lebih banyak soal memaknai hidup. Tidak ada waktu untuk lama-lama menangis. Malam saat dikabari paper-ku tidak bisa submit dan harus mengubah story-nya, aku menangis berjam-jam. Sendiri, di samping sofa biru ruang tengah rumahku. Mataku bengkak, hidungku merah, wajahku sembap, tapi tetap harus membaca pesan elektronik yang datang tiap berapa menit. Saat berduka pun, aku harus bisa berpikir jernih. Besoknya, saat hari baru datang, aku harus melanjutkan perjalanan dengan profesional. Aku mahasiswa (S3), tidak ada ruang yang cukup untukku berduka.
Setelah membilas muka secukupnya, aku datang ke Lab seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada waktu untuk mengeluh, aku harus segera membaca kritik dan saran beberapa halaman. Belum sempat mencerna apa yang terjadi kemarin, hari ini aku harus segera paham konteks yang dibicarakan. Pukul empat sore, aku harus duduk di meja diskusi, membahas topik yang membuatku menangis sepanjang malam. Lidahku terbiasa menjawab "aku baik-baik saja" dalam setiap keadaan. Selain pandai menganalisis data, aku juga pandai berbohong. Sebuah skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa (S3). Aku tidak tahu bagaimana mahasiswa di belahan bumi lain, tapi setidaknya teman-teman di lingkunganku semua begitu. Kami pandai bermain peran, pelakon sandiwara kehidupan. Kami tahu cara mengolah data, tapi tidak tahu cara terbaik untuk berduka.
Perjalanan S3 bukan soal pembimbing baik atau killer. Tentu itu ada kontribusinya. Buatku, perjalanan S3 adalah perjalanan untuk kembali menemukan jati diri. Itu kalau kamu S3 di tempat yang benar. Bagaimana, kamu tertarik untuk sekolah lagi?