Senin, 17 Maret 2025

Cara Terbaik Untuk Berduka

Maret di kampusku, Model Farm Hokudai

Hari ini aku sedikit lesu, melangkah lunglai di atas jalan yang sama. Pagi terlihat indah, namun aku tidak cukup bahagia untuk tertawa. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini, aku hanya menyimpannya sebagai kata dalam kepala. Mulai dari paper-ku yang berubah cerita, semua berantakan tanpa bisa dikendalikan. Aku bersalah pada beberapa teman, meninggalkan sebelum mulai perjalanan bukan hal yang benar. Tidak punya cukup kata-kata baik untuk menjelaskan, membuatku pamit dan menjauh tanpa meninggalkan alasan. Ini bukan sikap yang baik, tapi tidak ada opsi lain yang lebih baik.

Pertengahan Maret, juga pertengahan Ramadhan, tapi aku merasa semakin Jauh dari Tuhan. Selain salju yang masih turun, hatiku yang gelisah membuat jalan ini kehilangan arah. Aku bertanya, "Setarakah semua ini dengan apa yang dikorbankan?" Diriku yang lain hanya diam, diam merenungi jengkal demi jengkal yang kutinggalkan di belakang.

Setelah tiga tahun tinggal ribuan kilometer dari kampung halaman, aku mulai terbiasa menerima kabar duka. Berita kehilangan silih berganti datang dalam kesendirian. Aku mencoba mereka wajah-wajah mereka yang ditinggalkan dalam ingatan. Sungguh, aku tidak pernah benar-benar siap dengan perpisahan. Jika berita duka datang bertepatan dengan urusan kerja yang harus diselesaikan, aku harus buru-buru menyeka air mata dan kembali tegak dengan sikap profesional. Kadang aku bertanya, "Adakah ruang untukku agar bisa berduka lebih lama?"

Perjalanan S3-ku lebih banyak soal memaknai hidup. Tidak ada waktu untuk lama-lama menangis. Malam saat dikabari paper-ku tidak bisa submit dan harus mengubah story-nya, aku menangis berjam-jam. Sendiri, di samping sofa biru ruang tengah rumahku. Mataku bengkak, hidungku merah, wajahku sembap, tapi tetap harus membaca pesan elektronik yang datang tiap berapa menit. Saat berduka pun, aku harus bisa berpikir jernih. Besoknya, saat hari baru datang, aku harus melanjutkan perjalanan dengan profesional. Aku mahasiswa (S3), tidak ada ruang yang cukup untukku berduka.

Setelah membilas muka secukupnya, aku datang ke Lab seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada waktu untuk mengeluh, aku harus segera membaca kritik dan saran beberapa halaman. Belum sempat mencerna apa yang terjadi kemarin, hari ini aku harus segera paham konteks yang dibicarakan. Pukul empat sore, aku harus duduk di meja diskusi, membahas topik yang membuatku menangis sepanjang malam. Lidahku terbiasa menjawab "aku baik-baik saja" dalam setiap keadaan. Selain pandai menganalisis data, aku juga pandai berbohong. Sebuah skill yang harus dimiliki oleh mahasiswa (S3). Aku tidak tahu bagaimana mahasiswa di belahan bumi lain, tapi setidaknya teman-teman di lingkunganku semua begitu. Kami pandai bermain peran, pelakon sandiwara kehidupan. Kami tahu cara mengolah data, tapi tidak tahu cara terbaik untuk berduka.

Perjalanan S3 bukan soal pembimbing baik atau killer. Tentu itu ada kontribusinya. Buatku, perjalanan S3 adalah perjalanan untuk kembali menemukan jati diri. Itu kalau kamu S3 di tempat yang benar. Bagaimana, kamu tertarik untuk sekolah lagi?

Jumat, 14 Maret 2025

Kembali ke Titik Awal

 

Hokkaido University (Gate Kita 18)
Suatu waktu, perjalanan ini akan sampai di titik akhir. Saat masa itu datang, aku akan lega. Perjalanan ini mungkin tidak cukup panjang, tapi melelahkan. Setelahnya, aku akan kembali ke titik awal, tempat semua perjalanan ini dimulai. Sekedar memberitahumu, aku membeli ipad model terbaru beberapa hari lalu. Harganya cukup mahal, sejumlah uang jajanku beberapa bulan. Aku happy, perangkat tipis yang ada dalam daftar barang impian saat ini ada dalam genggaman. Senang sekali, tapi setelahnya aku merasa biasa saja. Tidak ada yang istimewa dengan benda ini. Beginilah dunia. Semua tampak menarik sebelum dimiliki.

Saat ini, aku sedang berpikir untuk kembali menulis cerita. Kali ini, aku tidak tahu akan bertahan berapa lama. Mungkin sama seperti sebelumnya, beberapa hari saja sampai aku terbiasa dengan ipad baruku. Aku tidak tahu cerita mana yang menarik dan layak untuk dibagikan. Ceritaku hanya istimewa untuk diriku sendiri, belum tentu bermakna di hati pembaca. Ah, sudah seperti penulis saja. Padahal, belum tentu ada yang membaca. Jika kebetulan kamu mampir di halaman ceritaku, bisakah kamu tinggalkan beberapa kata? Aku akan senang membacanya walau kita belum pernah bersua. Ini ceritaku, potongan kejadian dalam hidupku. Tidak ada yang istimewa. Aku harus mengatakan itu sebelum kamu kecewa.

Langit biru di foto itu aku potret pada pagi musim dingin saat jalan kaki menuju Labku. Rutinitas harian sebagai mahasiswa. Jalan yang sama, indah memukau mata. Pohon-pohon menjadi putih setelah salju turun sepanjang malam. Kristal es menempel di ranting-ranting yang gundul. Berkilau disinari cahaya pagi, indah sekali. Aku sudah melihat kristal salju, wujudnya berkali lipat lebih indah dari yang kulihat di layar kaca. Semoga kamu ada di sini juga untuk melihatnya. Jika nanti aku menulis lagi, cerita apa yang ingin kau dengar?

Senin, 21 Maret 2022

Pawang Hujan di MotoGP Mandalika

Sumber : Instagram @motogp

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pawang adalah orang yang mempunyai keahlian istimewa yang berkaitan dengan ilmu gaib seperti dukun, mualim perahu, pemburu buaya, dan penjinak ular. Sedangkan pawang hujan adalah orang yang pandai menolak hujan. Sebelum membuat penilaian, mari kita cari tahu bagaimana cara pawang hujan mengendalikan hujan? Pawang hujan tidak menghentikan hujan, tapi memindahkan atau menggeser hujan yang akan turun di lokasi tertentu ke lokasi lain. Dalam menggeser hujan, pawang hujan meminta bantuan atau bekerjasama dengan khodam, makhluk ghaib yang tinggal di barang pusaka. Khodam akan menjadi rekan pawang hujan untuk membantu memindahkan hujan agar tidak turun di tempat yang diinginkan.1 Menurut ajaran Agama Islam, apa hukum mempercayai pawang hujan? Berdosa2, tidak dibenarkan,3 dan syirik karena meminta kepada jin4. Apa bedanya meminta bantuan pawang hujan dengan meminta bantuan para ulama atau asatidz? Sangat berbeda. Pawang hujan menggunakan media seperti jin dalam berdo’a (komat-kamit membaca mantra) sedangkan para ulama atau asatidz hanya membantu atau memimpin sekelompok orang berdo’a (meminta) langsung kepada Allah agar tidak diturunkan hujan. Soal hujan atau tidak, pawang hujan dan ulama sama-sama tidak punya kuasa dalam mencegah turunnya hujan. Tapi soal berdosa atau tidak, jelas bahwa meminta bantuan pawang hujan adalah dosa karena menggunakan perantara untuk meminta kepada Allah SWT. Titik kritisnya adalah ulama tidak menggunakan perantara, sementara pawang hujan menggunakan perantara.

Apa bedanya pawang hujan dengan prediksi cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)? Dari arti bahasa saja sudah sangat berbeda. Perkiraan cuaca BMKG dilakukan oleh forecaster, yaitu seorang prakirawan cuaca, orang yang memprakirakan cuaca. Karena sifatnya hanya memprakirakan, maka hasilnya bisa benar atau salah. Sangat berbeda dengan penyebutan pawang hujan sebagai orang yang pandai menolak hujan. Pandai menolak artinya pandai mencegah hujan turun yang artinya orang tersebut punya kuasa untuk menolak hujan. Sedangkan forecaster tidak demikian, forecaster hanya memperkirakan, hasil akhirnya adalah kuasa Tuhan. Sekarang mari kita analisa dari sudut pandang sains. Forecaster menganalisa data hasil pengukuran, biasanya citra satelit atau radar cuaca. Data tersebut berupa tekanan udara, arah dan kecepatan angin, kelembapan dan suhu udara, serta suhu muka laut. Selain itu juga mempertimbangkan fenomena atmosfer seperti siklon tropis dan Madden Jullian Oscillation. Data-data tersebut akan dimodelkan dengan Numerical Model Prediction (Prediksi Model Numerik-karena prediksi maka hasilnya bisa benar atau salah). Jika dibahas lebih rinci, proses mengumpulkan data hingga dihasilkan perkiraan cuaca sangat kompleks dan melibatkan banyak alat, teori, dan perhitungan.5

*Pembahasan lebih lanjut bisa dibaca di sini.

Selasa, 22 Februari 2022

Bisakah CPNS Memperoleh Tugas Belajar?

Dalam setiap perjalan kita, ada banyak orang yang berjasa

Judul tulisan ini adalah pertanyaan yang saya tanyakan ke Google setelah melihat pengumuman kelulusan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjelang akhir tahun 2020. Saat itu, saya tidak melihat ada peluang untuk mendapatkan keduanya : menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan melanjutkan S3 dengan Beasiswa MEXT. Saya harus memilih salah satunya. Saat itu, saya memilih untuk menjadi ASN dengan pertimbangan saya masih bisa berjuang untuk mendapatkan beasiswa lain. Tidak dengan ASN, sekali mengundurkan diri, maka tidak akan bisa mendaftar lagi untuk selamanya. Berkat saran dari dosen pembimbing, pilihan tersebut tidak membuat saya berhenti untuk terus mencoba memperjuangkan keduanya. Perjuangan ini membuat saya harus membaca dan mempelajari aturan pemberian Tugas Belajar dan Izin Belajar untuk ASN di Indonesia. Tulisan ini saya buat untuk memberikan gambaran bagi teman-teman yang sedang menghadapi hal yang sama. Tapi ada satu catatan penting : masalah kita boleh sama, tapi belum tentu solusinya juga sama karena Tuhan punya rencana untuk setiap makhluk-Nya. Oleh sebab itu, jangan jadikan tulisan ini sebagai penunjuk jalan, apalagi lentera dalam kegelapan. Tulisan ini dibuat hanya sebagai wawasan teman-teman dalam membuat keputusan. 

Kamis, 26 Agustus 2021

My Research Journey (1)


Allah sebutkan dalam Al-Quran bahwa keberhasilan dan kegagalan akan dipergilirkan kepada manusia agar Allah mengetahui siapa yang paling beriman di antara mereka. Berhasil dan gagal adalah bagian dari takdir kehidupan. Hari ini, proposal penelitian yang kuajukan 3 bulan lalu tidak lolos pendanaan. Salah satu mimpiku adalah mendapat international research grants. Hari ini, mimpi itu belum nyata. Tidak apa-apa, belajar dari kesalahan dan semangat untuk berbenah diri. Suatu hari nanti, insya Allah namaku akan tertera di sini. Bismillah...