Langsung ke konten utama

Resep Kukis Coklat Tanpa Oven, Mixer, dan Timbangan

Kukis Coklat
Bahan-Bahan:
  • Satu bungkus margarin 200 gram (Blue Band serbaguna)
  • Satu butir kuning telur
  • Tepung terigu protein sedang (tepung serbaguna Segitiga Biru) sekitar 16 sendok makan
  • Gula halus (Claris) sekitar 100 gram
  • Susu bubuk putih (Dancow) 27 gram
  • Coklat bubuk (Van Houten) 3 sendok makan, jika suka agak pahit bisa pakai 4 sendok makan
  • Tepung maizena (Maizenaku) 2 sendok makan
  • Coco chip untuk hiasan
Alat-Alat:
  • Panci untuk  memasak 2 buah
  • Sendok makan
  • Sendok pengaduk
  • Saringan
  • Garpu
Cara Membuat:
Cara memasak adonan
  1. Margarin dan kuning telur diaduk hingga tercampur rata, lalu tambahkan gula halus dan diaduk lagi hingga tercampur rata.
  2. Tambahkan tepung maizena sambil diayak, aduk, lalu tambahkan susu bubuk, aduk lagi, lalu tambahkan coklat bubuk sambil diayak, lalu adonan diaduk hingga tercampur rata.
  3. Tambahkan tepung terigu sedikit demi dedikit  sambil diayak dan diaduk rata hingga adonan bisa dibentuk.
  4. Ambil sedikit adonan, bentuk bulat lalu pipihkan, kemudian tekan sedikit dengan menggunakan garpu untuk membentuk pola.
  5. Tempatkan adonan pada wadah yang sudah disusun seperti Gambar Cara Memasak, lalu tempatkan satu coco chip di bagian atas.
  6. Tutup panci, lalu masak hingga matang (adonan kering).
Catatan:
  • Kukis ini sangat pas rasanya dan garing (kata teman kos udah bisa jualan kue, hehe). Komposisi tepung dan kekerasan adonan menentukan garing atau tidaknya kukis. 
  • Cara memasak seperti ini tidak dianjurkan bagi ibu-ibu yang punya bayi karena membutuhkan waktu lama.
  • Panci yang di bawah tidak diisi air, akibatnya teflon jadi agak kasar.
  • Uap air di di tutup kaca saat turun tidak mengenai kukis karena air rembesan jatuh ke pinggir, langsung menguap kering saat menyentuh panci yang panas.
  • Jika ada yang berniat menyumbangkan oven, mixer, dan timbangan dapur bisa dikirim ke Batan Indah K25 (kali aja ada yang baik hati, mau membantu aktivitas meningkatkan kreativitas ini tanpa mau dikenal identitasnya, hahaha).
  • Setelah wabah covid-19 ini selesai, mungkin harus beli pakaian baru karena volume otot yang memuai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agar Bisa Bekerja di Pusat Penelitian Fisika LIPI

Multibeam System JEOL JIB 4610f "Sebelum membaca tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa dimanapun kita berada akan selalu ada bagian menyenangkan dan bagian tidak menyenangkan . Tergantung bagaimana kita menikmatinya." Menjelang satu tahun saya belajar di Pusat Penelitian Fisika LIPI Kawasan Puspiptek Serpong, saya ingin berbagi sedikit pengalaman yang mungkin bermanfaat bagi teman-teman yang ingin bekerja di Pusat Penelitian pemerintah. Terlebih dahulu saya ingin menegaskan bahwa apa yang saya tulis, murni berdasarkan pengalaman pribadi. Hanya berdasarkan perasaan .   Tidak ada research mendalam, sehingga bisa jadi apa yang saya tulis tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini hanya rangkuman jawaban untuk pertanyaan teman-teman selama satu tahun terakhir. Jawaban yang mungkin juga bersifat subjektif. Namun saya tidak bermaksud menjelekkan instansi manapun. Setiap kekurangan yang ada di negeri ini adalah PR kita bersama (termasuk saya) untuk memperbaikinya. Saya tuliskan...

Penggunaan Smartphone Sebagai Alat Ukur Besaran Fisis

Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan-Tan Malaka (1897-1949) Hari ini, teknologi sudah menyentuh semua lapisan masyarakat. Komputer dan  smartphone  (ponsel pintar) bukan lagi barang langka, terutama di kalangan pelajar. April 2016, data terakhir dari eMarketer menyatakan bahwa Indonesia adalah pasar  smartphone  nomor tiga terbesar di Asia Pasifik setelah Cina dan India. Sayangnya, hasil survei DI Marketing, Asian Research Firm pada Juli 2016 menunjukkan bahwa lebih 80% penduduk Indonesia menggunakan  smartphone  untuk kepentingan media sosial. Artinya, masih sangat minim penduduk Indonesia yang menggunakan  smartphone  untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Minimnya penggunaan  smartphone  untuk perkembangan ilmu pengetahuan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah ketidaktahuan pengguna  smartphone . Sebagian besar pengguna hanya mengetahui fungsi ...

KAMIL Mengajar : Bulan dari Ganesha, Sinar Kecil Untuk Pendidikan Indonesia

Bersama adik-adik di depan Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung Berbagi tidak melulu harus harta atau uang. Menyisihkan waktu untuk membantu orang lain juga sedekah yang bisa menjadi amal jariyah. Tidak semua orang mau dan mampu meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak kurang beruntung yang tinggal di sudut Kota Bandung. Tapi tidak untuk kakak-kakak KAMIL Mengajar. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga siang, kakak-kakak yang sebagian besar adalah mahasiswa Pascasarjana ITB ini meluangkan waktu untuk belajar dan mengajar adik-adik di Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung. Bukan hanya berbagi pengetahuan dan membantu adik-adik yang kesulitan dalam belajar, kakak-kakak ini juga memotivasi adik-adik agar terus semangat untuk mengejar cita-cita. Selain itu, kakak-kakak ini juga menjadi fasilitator bagi mereka yang ingin menitipkan harta untuk membantu kebutuhan adik-adik. Mereka juga melakukan pegembangan  soft skill dan kreativitas adik-adik dengan mengadakan kegiatan yang mendukung, s...