Langsung ke konten utama

Sambal Cengek dan Kakak Tingkat


Kalo ngomong sambal, ingatnya Kak Utiya...

Kak Utiya adalah kakak tingkat waktu kuliah di ITB. Bukan hanya satu jurusan, kami juga satu lab penelitian. Selain itu, rumah kos Kak Utiya juga searah dengan rumah kosku. Oleh sebab itu, kami sering pulang bersama, terutama jika sudah malam dengan terlebih dahulu makan di Taman Sari. Lebih sering, aku menunggu Kak Utiya menyelesaikan eksperimen, terlebih saat malam Jum'at karena besok adalah Lab Meeting. Kak Utiya bisa eksperimen sampai jam sepuluh malam sehingga kami baru meninggalkan lab jam sebelas malam. Maklum, Kak Utiya sedang diburu deadline wisuda, hehe. Tentu saja bukan hanya aku yang menemani Kak Utiya. Ada Kuchi, Bram, Lely, Okta, atau yang lain. Yang jelas, bukan Kak Zeni, karena Kak Zeni selalu datang dan pulang tepat waktu. Kak Utiya dan aku sama-sama rajin masak. Tapi Kak Utiya spesial, karena sering membawa hasil dapurnya ke lab dan membagikannya pada kami. Tentu saja kami senang. Kudapan dari Kak Utiya selalu enak. Aku paling suka martabak buatan Kak Utiya, manis dan lembut. 

Setiap masak sambal cengek, aku jadi ingat Kak Utiya. Loh, kok bisa? Karena di kos Kak Utiya pertama kali aku mencicipi sambal ini. Lebay deh! Benar bahwa aku sudah mengenal sambal sejak kecil. Namun, sambal yang aku kenal selalu dibuat dari cabai keriting atau cabai rawit. Ternyata, ada banyak jenis cabai di Indonesia. Cengek salah satunya. Cabai ini juga dikenal sebagai cabai rawit domba atau datil pepper. Pertama kali aku lihat di Bandung. Cengek termasuk salah satu cabai terpedas di dunia yang berasal dari St. Agustine di Florida. Awalnya, aku tidak berani mengonsumsi cabai ini karena pedasnya luar biasa. Satu buah cengek dalam satu mangkok besar gulai ala Padang sudah membuat lidah dan perutku terbakar. Aku baru tahu bahwa cengek bisa diolah menjadi sambal yang sangat enak ketika berbuka puasa bersama teman-teman Lab di kos Kak Utiya.

Untuk membuat sambal ini, dibutuhkan cengek, bawang merah, bawang putih, dan tomat merah yang dipotong dengan ukuran besar. Bahan-bahan ini digoreng dalam minyak panas hingga wangi dan matang. Oh ya, terlebih dahulu goreng ikan teri atau ikan asin jenis apa saja yang disukai agar aroma minyak goreng lebih wangi. Berdasarkan pengalamku, paling enak menggunakan ikan teri atau ikan kukus. Aku tidak tahu Bahasa Indonesia ikan asin jenis ini, hehe. Selain ikan, bahan-bahan yang sudah digoreng diulek hingga halus bersama garam, kaldu bubuk, dan gula. Terakhir, masukkan ikan teri sambil sedikit ditumbuk jika teksturnya agak keras. Jika ikan yang digunakan memiliki daging yang lembut, cukup aduk ikan dan sambal hingga tercampur rata. Lebih enak lagi jika ditambahkan telur puyuh rebus. Oh ya, di kampungku, cengek ini belum dikenal. Sepertinya aku bisa jadi Duta Cengek lokal. Lebih hebat lagi jika jadi Pengusaha Cengek Provinsi Jambi, haha. Lumayan, buat modal naik haji. Aaamiin....

Foto lab bersama kakak tingkat
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Agar Bisa Bekerja di Pusat Penelitian Fisika LIPI

Multibeam System JEOL JIB 4610f "Sebelum membaca tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa dimanapun kita berada akan selalu ada bagian menyenangkan dan bagian tidak menyenangkan . Tergantung bagaimana kita menikmatinya." Menjelang satu tahun saya belajar di Pusat Penelitian Fisika LIPI Kawasan Puspiptek Serpong, saya ingin berbagi sedikit pengalaman yang mungkin bermanfaat bagi teman-teman yang ingin bekerja di Pusat Penelitian pemerintah. Terlebih dahulu saya ingin menegaskan bahwa apa yang saya tulis, murni berdasarkan pengalaman pribadi. Hanya berdasarkan perasaan .   Tidak ada research mendalam, sehingga bisa jadi apa yang saya tulis tidak sepenuhnya benar. Tulisan ini hanya rangkuman jawaban untuk pertanyaan teman-teman selama satu tahun terakhir. Jawaban yang mungkin juga bersifat subjektif. Namun saya tidak bermaksud menjelekkan instansi manapun. Setiap kekurangan yang ada di negeri ini adalah PR kita bersama (termasuk saya) untuk memperbaikinya. Saya tuliskan...

Penggunaan Smartphone Sebagai Alat Ukur Besaran Fisis

Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan-Tan Malaka (1897-1949) Hari ini, teknologi sudah menyentuh semua lapisan masyarakat. Komputer dan  smartphone  (ponsel pintar) bukan lagi barang langka, terutama di kalangan pelajar. April 2016, data terakhir dari eMarketer menyatakan bahwa Indonesia adalah pasar  smartphone  nomor tiga terbesar di Asia Pasifik setelah Cina dan India. Sayangnya, hasil survei DI Marketing, Asian Research Firm pada Juli 2016 menunjukkan bahwa lebih 80% penduduk Indonesia menggunakan  smartphone  untuk kepentingan media sosial. Artinya, masih sangat minim penduduk Indonesia yang menggunakan  smartphone  untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Minimnya penggunaan  smartphone  untuk perkembangan ilmu pengetahuan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah ketidaktahuan pengguna  smartphone . Sebagian besar pengguna hanya mengetahui fungsi ...

KAMIL Mengajar : Bulan dari Ganesha, Sinar Kecil Untuk Pendidikan Indonesia

Bersama adik-adik di depan Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung Berbagi tidak melulu harus harta atau uang. Menyisihkan waktu untuk membantu orang lain juga sedekah yang bisa menjadi amal jariyah. Tidak semua orang mau dan mampu meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak kurang beruntung yang tinggal di sudut Kota Bandung. Tapi tidak untuk kakak-kakak KAMIL Mengajar. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga siang, kakak-kakak yang sebagian besar adalah mahasiswa Pascasarjana ITB ini meluangkan waktu untuk belajar dan mengajar adik-adik di Panti Asuhan Mitra Muslim Bandung. Bukan hanya berbagi pengetahuan dan membantu adik-adik yang kesulitan dalam belajar, kakak-kakak ini juga memotivasi adik-adik agar terus semangat untuk mengejar cita-cita. Selain itu, kakak-kakak ini juga menjadi fasilitator bagi mereka yang ingin menitipkan harta untuk membantu kebutuhan adik-adik. Mereka juga melakukan pegembangan  soft skill dan kreativitas adik-adik dengan mengadakan kegiatan yang mendukung, s...